One site of Kerinci

Senin, 18 Mei 2009

Sejarah Kerajaan Koying

Bab 2
KERAJAAN KOYING
Periode Abad III - VI Masehi

1. Keberadaan Kerajaan Koying
Ada catatan yang dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-208) tentang adanya negeri Koying. Tentang negeri ini juga dimuat dalam ensiklopedi T’ung-tien yang ditulis oleh Tu-yu (375-812) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-t’ung-k’ao (Wolters 1967: 51). Diterangkan bahwa di kerajaan Koying terdapat gunung api da kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po. Di utara Koying ada gunung api dan di sebelah selatannya ada sebuah teluk bernama Wen. Dalam teluk itu ad apulau bernama P’u-lei (? Pulau). Penduduk yang mendiami pulau itu semuanya telanjang bulat, lelaki maupun perempuan, denga kulit berwarna hitam kelam, giginya putih-putih dan matanya merah. Mereka mealkukan dagan barter (tukar menukar) dengan para penumpang kapal yang mau berlabuh di Koying seperti ayam dan babi serta bebuahan yang mereka tukarkan dengan berbagai benda logam. Melihat warna kulitnya kemungkinan besar penduduk P’u-lei itu bukan termasuk rumpun Proto-Negrito yang sebelumnya menghuni daratan Sumatera.
Menurut catatan Cina yang lain lokasi Koying diperkirakan di Indonesia Barat ataupun di Semenanjung Malaka. Jika lokasinya memang di wilayah tersebut akhir itu pasti hal demikian tidak mungkin karena dilakporkan bahwa Koying merupakan sebuah neseri dengan banyak gunungapi sedan di Semananjung Malaka tidak ada gunung api. Jika kedudukannya di Indonesia Barat, yakni di Kalimantan, Jawa atau Sumatera, di pulau tersebut pertama juga tidak ada gunung api. Kalau negeri itu kedudukannya dianggap di Jawa juga sukar untuk diterima mengingat dengan demikian negeri itu harus berada di selatan gunung api bersangkutan yakni misalnya di Pegunungan Selatan Jawa. Kalau Koying dicoba ditempatkan si sebelah timur pulau Jawa, hal itu juga tidak mungkin karena wilayah itu tidak disebut-sebut dalam catatan Cina, dan besar kemungkinan memang belum dikenal oleh mereka.
Menurut data Cina Koying memuliki pelabuhan dan telah aktif mengadakan perdagangan, terutama dengan berbagai daerah di bagian barat Sumatera. Catatan Cina tentang hal itu didapatakan dari sumber India dan Funan (Vietnam) karena pengiriman perutusan ke dan perdagangan langsung dengan Cina belum dilakukan. Dilaporkan selanjutnya bahwa Koying berpenduduk sangat banyak dan menghasilkan mutiara, emas, perak, batu giok, batu kristal dan pinang. Dari aktifnya perdagangan rasanya sangat sukar untuk menerima pantai selatan Jawa sebagai kedudukan Koying. Namun dapat ditambahkan selain Koying telah melakukan perdagangan dalam abad ke 3 M juga di Pasemah (wilayah Sumatera Selatan) dan Ranau (wilayah Lampung) telah ditemukan petunjuk adanya aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh Tonkin (Tongkin, Ton-king) dan Vietnam (Fu-nan) dalam abad itu juga. Malahan kermaik hasil zaman dinasti Han (abad ke 2 SM sampai abad ke 2 M) di temukan di wilayah Sumatera tertentu (Ridho, 1979).
Adanya kemungkinan penyebaran berbagai negeri di Sumatera Tengah hingga Palembang di Selatan dan Sungai Tungkal di utara digambarkan oleh Obdeyn (1942), namun dalam gambar itu kedudukan negeri Koying tidak ada. Jika benar Koying berada di sebelah timur Tupo (Thu-po), Tchu-po, Chu-po) dan kedudukannya di Muara pertemuan dua sungai, maka ada dua tempat yang demikian yakni Muara Sabak (Zabaq, Djaba, Djawa, Jawa) dan Muara Tembesi (Fo-ts’i, San-fo-tsi’, Fo-che, Che-li-fo-che) sebelum seroang sampai di Jambi (Tchan-pie, Sanfin, Malayur, Moloyu, Malalyu). Dengan demikian seolah-olah perpindahan Kerajaan Malayu Kuno pra-Sriwijaya bergeser dari arah barat ke timur mengikuti pendangkalan Teluk Wen yang disebabkan oleh sedimen terbawa oleh sungai terutama Batang Tembesi.
Interaksi dagang yang terjadi secara langsung dan ada pula melalui perantaraan pihak ketiga. Hubungan dagang secara langsung terjadi dalam perdagangan dengan negeri-negeri diluar di sekitar Teluk Wen dan Selat Malaka maka besar kemungkinan negeri Koying berada di sekitar Alam Kerinci.
Adanya kontak atau hubungan antar negeri dapat dilihat dari bukti-bukti peninggalan sejarah kuno di Kerinci berupa barang-barang keramik yang berasal dari zaman Dinasti Han di Cina (202 SM s.d 221 M), barang-barang tersebut berupa guci terbuka, guci tertutup, mangkuk bergagang dan wada berkaki tiga tempat penyimpanan abu jenazah. Benda-benda keramik yang telah ditemukan kelihatannya bukan barang kebutuhan sehari-hari, melainkan barang-barang yang sering digunakan untuk upacara sakral bagi keperluan wadah persembahan.
Penemuan benda-benda yang berasal dari negeri Cina sebagaimana diungkapkan di atas, menunjukkan adanya jalur perdagangan atau kontak dagang baik secara langsung maupun tidak langsung antara penduduk negeri Koying dengan penduduk dari daratan negeri Cina. Kontak dagang masa silam antara negeri Cina dengan kerajaan di Alam Malayu menurut catatan geografi kepustakaan Dinasti Han telah berlangsung sejak pemerintahan Kaisar Wu Di. Tentang catatan geografi ini dikemukakan oleh Wan Hashim Wan Teh (1997: 96) sebagai berikut:
“Dalam Geografi Kepustakaan Dinasti Han (Han Shu Di Li Zhi) terapa catatan yang mengatakan bahwa semenjak pemerintahan Kaisar Wu Di (140 SM – 87 SM) sudah terdapat hubungan resmi antara Dinasti Han dengansebuah kerajaan di Jawa atau Sumatera bernana Diao Bian (bahasa Cina) atau Dewavarman. Hubungan kerajaan Cina dengan kerajaan Alam Malayu pada awal kurun Masehi tersebut mempunyai kepentingan perdangan, membeli mutiara, batu-batu permata, barang-barang antik, emas dan bermacam kain sutra”
Melihat pada komoditas perdagangan sebagaimana yang disebutkan dalam catatan geografi kepustakaan di atas, ternyata sebagianbesar dari komoditas tersebut dihasilkan oleh negeri yang berada di Alam Kerinci atau salah satu negeri di pusat Alam Melayu. Di negeri ini sejak zaman prasejarah telah dikenal menghasilkan barang-barang dagang tersebut. Oleh sebab itu besar dugaan bahwa penduduk negeri ini telah menjual barang-barang tersebut ke negeri tetangganya yaitu Kerajaan Javadwipa. Selanjutnya Kerajaan Javadwipa yang merupakan salah satu kerajaan maritime di kawasan nusantara pada waktu itu, lalu mengekspor barang-barang tersebut ke negeri Cina.
Atas dasar bukti-bukti peninggalan sejarah yang ditemukan menunjukkan pula bahwa negeri Koying telah aktif melakukan kontak dagang dengan negeri luar. Barang-barang tersebut kemudian mereka tukar dengan barang yang dibutuhkan oleh pedagang dari luar yang diawa para pedagang negeri luar yang berlabuh di Teluk Wen, seperti benda-benda keramik, manik-manik, sutera dan benda-benda perhiasan lainnya.
Pedagang dari negeri luar yang singga di pelabuhan Teluk Wen adalah para pedagang dari India Funan dan dari Kerajaan Javadwipa. Melalui perantara para pedagang ini barang-barang yang dihasilkan penduduk negeri Koying berterbaran ke manca negara termasuk ke negeri Cina. Demikian pula sebaliknya barang-barang yang mereka bawa dari negeri luar seperti dari negeri Cina terutama barang-barang keramik masuk pula ke negeri Koying.
Setelah satu kerajaan maritime besar merupakan mitra dagang utama negeri Koying, armada dagang kerajaan ini secara berkala menyinggahi pelabuhan Teluk Wen untuk membeli dan kemudian menjualnya ke manca Negara. Melalui hubungan dagang dengan kerajaan Javadwipa telah menyebabkan komoditi negeri Koying menyebar kemana-mana termasuk ke negeri Cina. Demikian pula barang-barang dari negeri luar terutama yang mempunyai hubungan dagang dengan kerajaan Javadwipa masuk pula ke negeri Koying.
Hubungan perdagangan secara langsung antara negeri Koying dengan negeri Cina besar dugaan belum pernah terjadi. Kalaupun ada barang-barang perniagaan negeri Cina masuk ke negeri Koying masuk ke negeri Cina, semuanya mealaui perantara armada dagang kerajaan Javadwipa dan para pedagang India dan Funaan yang singgah di pelabuhan Teluk Wen. Belum adanya kontak hubungan langsung antara Koying dengan negeri Cina termuat dalam catatan Cina yang dikemukakan oleh Sartono (1992:6) dimana disebutkan bahwa:
Negeri Cina mengetahui bahwa Negeri Koying memiliki pelabuhan dan telah aktif mengadakan perdagangan terutama dengan berbagai daerah di bagian barat Sumatera. Informasi tersebut diperoleh Cina dari sumber India dan Funan (Vietnam) karena pengiriman perutusan dan perdaganganlangsung ke Negeri Koying belum dilakukan. Disebutkan juga bahwa penduduk negeri in berjumlah banyak dan menghasilkan mutiara, perak, batu giok,batu kristal dan pinang.
Merujuk pada informasi di atas, berarti negeri Cina hanya mengetahui keberadaan negeri Koying melalui pedagang kerajaan Javadwipa, India dan Funan. Selain itu, terdapat indikasi bahwa barang-barang perniagaan yang dibawa dari negeri Koying sebagian besar banyak yang dijual ke negeri Cina. Begitu pula sebaliknya barang-barang dari negeri Cina yang dibeli oleh armada dagang Javadwipa, dan para pedagang India dan Funan, dapat diduga pula kebanyakan dijual ke negeri Koying. Mungkin hal inilah yang menyebabkan keberadaan negeri Koying termuat jelas pada berbagai catatan sejarah negeri Cina.
Dalam sebuah tulisan S. Sartono (1992:5 & 7) dikemukakan pula bahwa:
Dalam wilayah Jambi ada 3 kerajaan Melayu Kuno pra-Sriwijaya yang seiring disebut dalam catatan Cina yaiut: Koying (abad ke 3), Tupo (abad ke 3) dan Kantoli (Kuntala abad ke 5). Catatan tentang adanya negeri (kerajaan) Koying dibuat oleh K’ang-tai dan Wan-chen dari wangsa Wu (222-280). Selain itu juga dimuat dalam ensklopedi T’ung-tien yang ditulis Tuyu (375-812 M) dan disalin oleh Ma-tu-an-lin kedalam Ensklopedi Wenhxien-t’ung-k’ao (Wolters 1967: 51).
Catatan negeri Cina yang dikemukakan di atas menerangkan tentang keberadaan negeri/kerajaan Koying dimana disebutkan ciri wilayahnya teradap banyak gunung api, kedudukannya 5.000 li di timur Chu-po (Tu-po), di daerah ini terdapat banyak sungai yang bermuara ke Teluk Wen, negeri ini berpenduduk banyak dan mendiami pergunungan Bukit Barisan serta penghasil mutiara, emas, perak, batu krisal dan pinang.
Dari catatan negeri Cina yang dikemukakan Wan-Hashim Wan Teh dan S. Sartono, mendukung kuat keberadaan negeri Koying terletak di pusat inti Alam Malayu. Sedangkan daerah Alam Kerinci ini, mulai dari Gunung Kerinci di sebelah utara sampai gunung Masumai di sebelah Selatan pada masa lampau diketahui banyak terdapat gunung api aktif. Sekarang gunung api tersebut sudah tidak dijumpai lagi, karena sebagian sudah padam dan sebagian lagi sudah meletus. Berbagai perubahan memang telah terjadi akibat dari peristiwa alam dan rotasi bumi. Sebagai contoh danau Kerinci, danau Gunung Tujuh, danau Pauh dan lain-lain terbentuk akibat dari letusan gunung api.
Dalam catatan Cina lainnya yang dikemukaan S. Sartono (1992:6) ada yang menyebut lokasi Koying diperkirakan berada di Indonesia Barat ataupun di Semenanjung Malaka. Namun pada daerah Semenanjung Malaka tidak ditemukan gunung api, demikian pula halnya dengan pulau Kalimantan. Kalau kedudukannya dianggap di Pulau Jawa misalnya dipergunungan Selatan Jawa yang terdapat gunungn api, berarti daerah ini berada pada bagian Selatan dari jajaran gunung api Bukit Barisan. Sedangkan kebanyakan sumber Cina menyebutkan negeri Koying berada pada daerah yang banyak gunung api di wilayah pergunungan Bukit Barisan. Selanjutnya, bila negeri Koying tersebut dicoba untuk ditempatkan di sebelah Timur pulau Jawa, kelemahannya tidak satupun wilayah tersebut dinyatakan dalam catatan Cina. Sungguhpun S. Sartono memperkirakan kerajaan Koying telah ada sekitar abad ke tiga masehi, namun catatan negeri Cina menyatakan hubungan perdagangan dengan daerah ini telah berlangsung semenjak sebelum masehi. Selain itu bukti peninggalan sejarah yang ditemukan di daerah ini menunjukkan benda-benda peninggalan sejarah semasa dinasti Han, yakni kekuasaan raja-raja didaratan Cina sebelum masehi.
Berdasarkan hal di atas maka dapat disumpulkan dan diyakini bahwa negeri Koying yang disebutkan dalam beberapa catatan sejarah negeri Cina, tidak lain merupakan sebuah negeri yang keberadaannya terletak di wilayah Alam Kerinci, yaitu daerah yang dihuni oleh suku bangsa Kerinci. Sungguhpun demikian masih terdapat pertanyaan yang perlu dijawab, yaitu: apakah nama Koying tersebut merupakan nama negeri/kerajaan yang diberikan suku bangsa Kerinci pada waktu itu, atau semuah nama yang diberikan oleh bangsa lain?
Berdasarkan berbagai catatan peninggalan sejarah yang pernah ditelusuri dan dipelajari terutama dari catatan Tulisan Rencong, sampai saat ini belum ditemukan kata Koying. Oleh sebab itu besar dugaan kata Koying hanya sebutan yang diberikan orang dari negeri Cina kepada sebuah negeri di Alam Kerinci yang merupakan tempat mereka menjual dan memperoleh barang-barang perniagaan. Dugaan ini cukup kuat mengingat secara langsung bangsa Cina disebutkan belum pernah mengunjungi daerah tersebut, baik mengirim perutusan secara resmi, apalagi melakukan perdagangan secara langsung. Mereka hanya mengethui daerah tersebut dari mitra dagangnya yaitu bangsa India dan Fungan yang telah sering berniaga ke sana. Namun yang jelas, di wilayah Alam Kerinci sebelum atau sekitar permulaan abad masehi telah terdapat sebuah pemerintahan berdaulat yang diakui keberadaanya oleh negeri Cina yang disebut dengan negeri Koying atau kerajaan Koying.


2. Ensiklopedi Negeri Cina
Salah satu catatan sejarah penting yang mengungkapkan tentang “Alam Kerinci” tertulis dalam ensiklopedi yang terdapat di negeri Cina. Ensklopedi ini secara tegas memang tidak menyebutkan Alam Kerinci, namun daerah yang dimaksud berdasarkan ciri-ciri yang dikemukakan mempunyai kemiripan yang sangat dekat. Pengungkapan ciri-ciri ini dapat dipahami mengingat daerah tersebut belum diketahui namanya.
Informasi negeri Cina yang menyebutkan ciri-ciri keberadaan suatu daerah di pusat inti Melayu pada pergunungan Bukit Barisan dikemukakan S. Sartono (1992), bahwa pada wilayah Provinsi Jambi pernah ada 3 (tiga) kerajaan Melayu Kuno pra-Sriwijaya yang sering disebut-sebut dalam catatan Cina. Ketiga kerajaan itu adalah Koying (abad ke 3 Masehi), Tupo (abad ke 3 Masehi) dan Kuntala(abad ke 5 Masehi).
Keberadaan sebuah negeri di pergunungan Bukit Barisan pada pusat Inti Melayu yang merka sebut dengan negeri Koying dikemukakan oleh K’ang-tai dan Wan-chen yang hidup pada masa pemerintahan wangsa Wu (222-280 Masehi). Selain itu juga ditemukan dalam Tung-tien yang ditulis Tu-yu (375-812 Masehi) dan tulisan disalin Ma-tu-an-lin dalam ensiklopedi Wen-hsien-rungk’ao (Wolters 1967:51). Mereka menerangkan bahwa Negeri Koying merupakan sebuah wilayah yang banyak terdapat gunung api yang besar dan dibagian selatan terdapat sebutah teluh yang diberi nama Teluk Wen. Dalam kawasan Teluh Wn terdapat sebutah pulay yang mereka sebut P’u-lei (?=pulau). Orang yang mendiami pulai ini, baik laki-laki maupun perempuan bertelanjang bulat, berkulit hitam kelam, giginya putih-putih dan bermata merah. Mereka melakukan dagang barter (tukar-menukar) barang-barang dengan penumpang kapal yang akan berlabuh di Pelabuhan Koying. Barang-barang tersebut mereka tukar dengan berbagai benda logam. Dilihat dari warna kulit kemungkian besar penduduk P;u-lei itu bukan termasuk dalam rumpun Melayu, tetapi banyak persamaannya dengan rumpun Proto-Negrito yang sebelumnya telah lama menghuni daratan Sumatera. Selain itu, Negeri Koying dinyatakan memiliki pelabuhan dagang dan aktif melakukan perdagangan dengan berbagai daerah dibagian barat Sumatera. Penduduk negeir ini diperkirakan sangat banyak dan menghasilkan mutiara, emas, perak , batu giok, batu kristal da pinang.
Versi lain catatan Cina memperkirakan lokasi Koying di wilayah Kalimantan atau pulau Jawa atau Semenanjung Malaka. Akan tetapi pada dearahKalimantan dan Semenanjung Malaka tidak ditemukan gunung api. Sedangkan bila kedudukannya dianggap di Jawa, maka negeri ini akan berada di Tenggara gunung apai dari pusat Inti Malayu. Jadi tidak mungkin daerh yang dimaksud berada pada baigan Selatan pulau Jawa. Selanjutnya, bila daerah negeri ini ditempatkan di sebelah Timur pulau Jawa, hal ini tidak pernah disebutkan dalam cataran Cina.
Semua catatan Cian yang menerangkan tentang negeri Koying tersebut dibuat berdasarkan sumber yang mereka peroleh dari orang-orang India dan Funan (Vietnam). Kedau suku bangsa tersebut telah lama mempunyai huungan atau kontak dagang dengan negeri Cina. Orang-orang dari Negeri Cina sendiri belum pernah mengadakan hubungan perdagangan langsung ataupun tidak langsung dengan nama Koying.
Secara implisit berdasarkan ciri-ciri georgrafis yang dikemukakan,maka Negeri Koying itu sangat melekat dengan kondisi georgrafis wilayah Alam Kerinci, yaitu sebutah wilayah ditengah Pulau Sumatera yang merupakan bagian dari Alam Melayu. Wilayah ini barada dalam kawasan pergunungan Bukit Barisan, di daerah ini terdapat banyak gunung api terbesar dan tertinggi di Alam Melayu yang sekarang dikenal denan nama Gunung Kerinci. Posisi daerah in berada di bagian Timur kerajaan Tupo yaitu sebuah erajaan pra-Sriwijaya yang pernah terdapat di sekitar daerah Muaro Tebo sekarang.
Memang timbul pertanyaan apakah pada waktu itu daerah yang dimaksudkan sudah mempunyai nama baik yang diberikan penduduknya ataupun orang lain, mengingat informasi tentang hal itu belum diketahui orang karena faktor komunikasi dalam masalah bahasa antara satu sama lain (antara suku bangsa Kerinci dengan suku bangsa lain) belum dapat saling mengerti. Pada sisi lain dapat saja daerah tersebut belum sama sekali diberi nama baik oleh penduduknya sendiri, maupun bangsa lain yang pernah tahu atau datang ke wilayah itu.
Tidak ditemukan secara jelas mengenai keberadaan lokasi Negeri Koying pada catatan Cina disebabkan karena negeri ini terpadat di pedalaman Alam Melayu, diperlukan waktu, dan kekuatan untuk sampai ke lokasi negeri Koying. Semua catatan yang terdapat pada waktu itu mengenai negeri Koying tidak lain di dapat berdasarkan informasi masyarakat atau pendatang yang berlabuh di Teluk Wen, sedangkan mereka sendiri belum pernah masuk atau tinggal di pedalaman pegunungan di Negeri Koying.

3. Pusat Pemerintahan Koying
Kehidupan penduduk negeri ini tertentu telah berlangsung sejak lama, dimulai dari zaman prasejarah. Mereka mengawali kehidupan dalam suatu tatanan kemasyarakatan, berangkat dari kelompok-kelompok masyarakat dalam lingkup kecil yang dikenal dengan istilah talang/koto, hingga kemudian membentuk suatu masyarakat yang lebih besar dalam lingkup kesatuan negeri yang akhirnya membentuk sebuah pemerintahan. Bisa dikatakan bahwa revolusi peradaban suku bangsa Kerinci bergerah secara alamiah.
Sebenarnya sebutan kerajaan sebagaimana yang disenyalir dalam catatan negeri Cina tidaklah tepat untuk menyatakan kedaulatan sebuah negeri (Negara) di kawasan Alam Kerinci. Istilah kerajaan tidak dikenal dalam komunitas masyarakat Kerinci. Bentuk pemerintahan kerajaan dengan kekuasaan secara turun temurun dari seornag raja kepada putra mahkotanya belum pernah dijumpai di daerah ini. Kekuasaan negeri yang dijumpai di daerah ini menurut sepanjang adat hingga sekarang tetap dijabat secara bergilir dalam suatu komunitas masyarakat sesuai dengan tingkatan strata mereka. Setiap pemimpin masyarakat dalam komunitas akan dipilih secara demokratis dalan dianugrahkan gelar atas jabatan yang disandang oleh anggota kelompoknya (primus inter parest atau orang yang utama diantara yang sama). Untuk pemegang pemerintahan negeri ini digilir di antara pemimpin kelompok masyarakat tersebut melalui suatu system yang disebut dengan ‘sko bagilir sandang baganti’ atau kekuasaan digilir dan dipegang secara bergantian (a system of rotating right). Itulah sebabnya sampai sekaran di bumi Alam Kerinci tidak pernah ditemukan nama dari seorang raja yang pernah berkuasa. Atas dasar itu, maka sebutan kerajaan dalam tulisan ini kuang kena karena lebih tepat digunakan istilah negeri/Negara atau pemerintahan Koying.
Pengertian negara dalam hal ini adalah kumpulan dari persekutuan adat dalam kelompok-kelompok kecil, lalu bersatu membentuk strata komunitas persekutuan yang lebih besar yang tersebar dalam wilayah Alam Kerinci, dimana kemudian kelompok ini bergabung membentuk pemerintahan atau negara. Oleh sebab itu, maka wilayah dari Negara atau pemeritnahan Koying terdiri atas kumpulan dari talang, koto, kampong dan dusun yang sersebar dalam wilayah Alam Kerinci.
Kembali pada catatan negeri Cina yang menyatakan keberadaan Negeri Koying, dimana diantara cirri-ciri yang dikemukakan menyebutkan bahwa penduduk negeri ini berjumlah banyak dan mendiami daerah di sepanjang pergunungan Bukit Barisan, maka keberadaannya cukup kuat bila dilihat dari penyebaran talang dan koto di sepanjang lereng-lereng dan lembah-lembah pergunungan, mulai dari daerah Kerinci Tinggi sampai ke daerah Kerinci Rendah. Daerah-daerah yang mereka diami adalah sekitara pinggiran hutan yang subur untuk tanah pertanian dan daerah-daerah potensial penghasil bahan pertambangan. Pusat-pusat pemukiman ini umumnya berada tidak jauh dari sumber air, seperti di sekitar danau, di sepanjang tepi sungai dan di sekitar rawa-rawa.
Sekarang hal yang perlu untuk ditelusuri adalah dimana pusat dari Negara Koying dan apa nama tempat tersebut. Dalam catatan negeri Cina tida dijumpai hal yang dapat mengidentifikasi dimana letak pusat pemerintahan Koying. Berita negeri Cina hanya memberikan gambaran tentang keberadaan wilayah yang mereka sebut denan nama negeri Koying dengan cirri-ciri daerahnya. Berdasarkan cirri-ciri tersebut hanya diidentifikasi bahwa daerah tersebut adalah wilayah Alam Kerinci. Sedangkan dimana letak pusat pemerintahan negeri Koying tidak sedikitpun disinggung. Oleh sebab itu, bila hanya berdasarkan informasi negeri ina maka sulit untuk menelusuri letak pusat kekuasaan pemerintahan Koying. Hal ini juga berlaku untuk kerajaan masa lalu yang se zaman dengan Koying seperti kerajaan Javadwipa, kerajaan Tupo dan lainnya. Bahkan letak pusat–pemerintahan kerajaan jauh setelah Koying seperti kerajaan Melayu dan kerajaan Sriwijaya sampai kinipun tidak diketahui secara pasti. Selain itu sumber tertulis dari daerah ini, terutama dari catatan-catatan yang terdapat pada tulisan rencong belum didapatkan cerita yang memberikan gambaran tentang hal ini.
Sebenarnya berdasarkan atas bukti-bukti peninggalan praseharah dan sejarah yang ditemukan di daerah ini danya dapat diperkirakan letak pusat-pusat pemukiman penduduk (seperti talang, koto dan kampong). Bahkan dapat diprediksi bahwa tempat kediaman tersebut telah ada semenjak zaman apa. Umpamanya tempat kediaman orang pada zaman prasejarah batu tua (paleolitikum) dapat dilihat dari peninggalan batu serpih (flakes) dan batu yang belum diasah pada sekitar lokasi temuan itu. Kediaman orang pada zaman batu tengah (mesolitikum) tentunya akan ditemukan benda-benda flakes, batu yang mulai diasah, tulang, dan pebble. Tempat kediaman orang zaman batu baru (neolitikum) dapat dilihat dari keberadaan peninggalan batu besar (megalit), tembikar, kapak lonjong, dolmen, menhir dan lain-lain. Tempat pemukimaan penduduk pada saman logam akan ditemukan bekas peninggalan bejana perunggu, candrasa, manik-manik, dan lain-lain.
Sungguhpun informasi tertulis, baik yang bersumber dari daerah ini, maupun dari sumber luar belum ada yang menyebutkan letak pusat pemerinthaan Koying, namun dengan memperhatikan peninggalan sejarah pada banyak lokasi di daerah Kerinci yang berasal dari Dinasti Han, maka tabir kegelapan tentang hal ini dapat sedikit terungkap.
Peninggalan sejarah dari Dinasti Han berupa benda-benda keramik banyak sekali ditemukan pada desa-desa yang terdapat di sekitar danau Kerinci bagian selatan, seperti pada desa Muak kecamatan Batang Merangin dan lain-lain. Benda-benda keramik yang telah ditemukan itu merupakan barang-barang mewah pada saat itu dalam bentuk guci terbuka, guci tertutup, mangkok bergagang, wadah penyimpanan abu jenazah, pecahan piring, cawan dan mangkok. Mengingat benda-benda tersebut merupakan barang-barang mewah maka bias dipastikan bahwa pemiliknya adalah para pemuka masyarakat atau pembesar negeri. Merekalah kelompok dari orang-orang yang dianggap mampu untuk mendapatkan benda-benda tersebut apalagi benda-benda tersebut merupakan barang-barang yang harus didatangkan dari negeri seberang yang sangat jauh.
Secara logika sudah pasti barang keramik tersebut dibeli para petinggi/pemuka negeri dengan harga yang sangat mahal, dan tidak mungkin dapat dibeli oleh rakyat biasa. Lokasi penemuan benda-benda ini setidaknya telah menunjukkan bahwa para pemuka masyarakat dan petinggi negeri Koying menetap di sekitar lokasi tersebut. Tempat menetapnya para petinggi dan pemuka masyarakat suatu negeri tentulah merupakan ibunegeri atau ibukota pusat pemerintahan. Atas dasar hal di atas, maka dapat diperkirakan bahwa pusat pemerintahan Negara Koying berada di sekitar lokasi tersebut yaitu pada dataran sebelah Selatan Danau Kerinci atau pada lokasi dusun purba Jerangkang Tinggi. Namun apa nama tempat pusat pemerintahan negeri Koying pada waktu itu belum dapat diketahui, baik berdasarkan sumber informasi yang digali dari daerah ini sendiri maupun dari sumber luar.
Melihat jauhnya lokasi danau Kerinci dari daerah pantai maka dapat dipastikan kontak dagang yang terjadi antara penduduk negeri Koying dengan orang-orang luar, hanya berlangsung di pelabuhan dagang di Teluk Wen dekat Muara Tebo sekarang. Di pelabuhan dagang iniliah barter barang-barang perniagaan dilakukan. Para pedagang negeri Koying dari dareah menanti pedagang dari negeri luar seperti dari India, Funan dan negeri/kerajaan nusantara sekitarnya membeli barang-barang mereka. Sebaliknya para pedagang luar menjual barang-barang niaganya kepada para pedagang negeri Koying. Berarti dalam hal ini para pedagang negeri luar tidak pernah mengetahui negeri yang berada dalam wilayah Koying termasuk letak dan nama ibukota negeri Koying itu sendri.
Hal ini dapat dimengerti, karena untuk menjangkau daerah di sekitar danau Kerinci bukanlah hal yang mudah, disamping jaraknya cukup jauh dengan Teluk Wen, lagi pula medannya sangat sulit penuh dengan pergunungan danlembah-lembah terjal, sehingga sangat membahayakan bagi orang tidak terbiasa menempuhnya. Di samping membahayakan juga memerlukan waktu yang cukup lama untuk dapat mencapai lokasi sekitar danau Kerinci. Kondisi ini menyebabkan pedagang negeri luar enggan berkunjung secara langsung ke pusat negeri Koying. Mungkin inilah sebabnya tidak satupun sumber catatan sejarah negeri luar yang memberitakan tentang nama ibukota atau pusat pemerintahan negeri Koying. Sumber negeri Cina hanya sebatas memberitakan tentang keberadaan negeri Koying dan pelabuhan Teluk Wen, yaitu pelabuhan dagang yang digunakan penduduk negeri Koying, sebagai tempat dimana para pedagang dari berbagai negeri berniaga atau melakukan tukar menukar barang.
Pada mulanya pemerintahan Koying hanya menguasai negeri-negeri kecil yang terdapat pada dataran tinggi Bukit Barisan dalam wilayah Alam Kerinci. Sedangkan pada daerah dataran rendah bagian Selatan dari negeri Koying saat itu berada dibawah kekuasaan pemerintahan Tupo (Kerajaan Tupo) yang berpusat di sekitar dearah Muara Tebo sekarang. Di sini terdapat sebuah pelabuhan dagang yang ramai dikunungi berbagai negeri yang disebut dengan pelabuhan Teluk Wen. Awalnya negeri Koying ikut memanfaatkan pelabuhan dagang ini untuk menjual berbagai komoditi dagang yang dihasilkan penduduknya. Namun dalam perjalan sejarah yang panjang terjadi perselisihan antara negeri Koying dengan kerjaan Tupo. Perselisihan disebabkan karena kekuatiran kerajaan Tupo yang berlebihan terhadap negeri Koying dalam perdgangan di Teluk Wen. Tupo mempersulit lalulintas barang dari negeri Koying dengan menetapkan pajak yang tinggi dan memberlakukan berabgai peraturan yang memberatkan negeri Koying.
Sampai pada saat tertentu kedua pemeritnahan akhirnya tidak dapat lagi mencapai kesepakatan. Pada sisi lain para pedagang dari negeri Koying yang melintasi wilayah Tupo sudah sering mendapat gangguan. Pada sekitar pertengahan abad ke 3 M peperanan antara kedua kerajaan tidak dapat dihindari lagi. Akhirnya peperangan tersebut, negeri Koying dapat mengalahkan kerajaan Tupo dan menguasai sepenuhnya pelabuhan Teluk Wen termasuk negeri-negeri yang berada disekitarnya. Pelabuhan dagang Teluk Wen yang juga merupakan ibukota kerajaan Tupo lalu dijadikan kota niaga atau pusat perdagangan negeri Koying.
Setelah pertenahan abad ke 3 M Negara Koying diperkirakan mencapai puncak kejayaannya. Pelabuhan dagang Teluk Wen semakin berkembang dan ramai dikunjungi pedagang dari berbagai negeri. Koying juga menjalin kerjasama dalam mencari mutiara denan orang-orang keturunan Proto-Negrito yang menghuni sebuah pulau di dalam Teluk Wen. Produksi mutiara yang melimpah menyebabkan Negara Koying menjadi terkenal di luar negeri sebagi negeri penghasil mutiara.
Pada saat yang sama aktivitas perdagangan dari berbagia kapal manca Negara yang keluar masuk Selat Malaka menunjukkan peningkatan. Pada penghujung abab ke 3 M, selain Koying terdapat 2 buah kerajaan di pantai Timur Sumatera yang mempunyai jalur perdagangan dengan luar negeri, yaitu kerajaan Pasemah yang berada di wilayah Sumatera Selatan dan Kerajaan Ranau yan gberada di wilayah Lampung. Sama halnya dengan negara Koying, kedua kerajaan tersebut mempunyai pelabuhan dagang yang selalu ramai dikunjungi pedagang dari Tongkin dan Funan. Perkembangan ini telah membuat Negara Koying merasa perlu untuk mengamankan daerah pandati timur yang menghadap Selat Malaka yaitu daerah disekitar Kuala Tungkal sekarang. Pada daerah sepanjang pantai ini terdapat beberapa pelabuhan kecil tempat persinggahan kapal-kapal niaga yang ingin menuju Teluk Wen. Daerah Kuala Tungkal sampai ke daerah Jambi sekarang dulunya berada dalam gugusan Teluk Wen. Sungai Batanghari waktu itu belum ada, yang ada hanya sungai-sungai yang mengalir dari dataran tinggi Kerinci dan daerah sekitarnya yang bermuara ke Teluk Wen di sekitar Muara Tebo sekarang. Sudah barang tentu jarah antara pelabuhan Teluk Wen dengan pelabuhan-pelabuhan kecil yang terdapat di daerah pantai timur tidak sejauh jarak antara Muara Tebo dengan Kuala Tungkal sekarang.
Pengamanan dan penguasaan daerah pantai timur di sekitar Kuala Tungkal tidak lain demi menjaga keberlangsungan dan keamanan perdagangan di Selat Malaka dan keamanan negeri Koying sendiri. Dikawatirkan bila daerah tersebut tidak dalam kendali Negara Koying maka pihak luar dapat memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan kecil di pantai timur untuk keperluan invasi ke Negara Koying. Negara Koying kemudian berhasil menguasai daerah pantai timur dan menjadikan pelabuhan-pelabuhan kecil yang terdapat di sana berada di bawah pengamanan dan kendali Negara Koying kurun waktu ini merupakan saat-saat pendint dalam kejayaan Negara Koying.
Namun demikian penguasaan atas wilayah pantai timur atau daerah di sekitar Kuala Tungkal, pada akhirnya menimbulkan kesulitan tersendiri bagi Negara Koying. Kendala yang mereka hadapi antara lain: daerah ini cukup jauh dari pusat kekuasaan yang berada di Alam Kerinci, topografi daerah berawa-rawa dan merupakan daerah pasang surut sehingga menyebabkan tidak dapat dikembangkan pola pertanian seperti di daerah pergunungan. Kondisi tersebuttelah menyebabkan orang-orang dari negeri Koying tidak mau menetap di sini. Akibatnya Negara Koying kesulitan menempatkan orang-orangnya disana untuk mengembang daerah ini bersama penduduk di sekitaranya. Kesulitan kemudian diatasi dengan mempercayakan sepenuhnya pengendalian darah sekitara pantai timur kepada pemuka masyarakat yang telah dibina. Melalui kerjasama dan saling menghormati roda pemerintahan dapat berjalan dengan baik. Kerjasama yang terjalin baik telah menyebabkan Negara Koying tidak mengalami hambatan dalam mengontrol dan mengembangkan wilayah sepanjang pantai timur. Itikad baik yang diperlihatkan para pemimpin masyarakat dalam menyelenggarakan pemerintahan menyebabkan Negara Koying tidak ragu memberi kesempatan secara lebih luas keapda penduduk negeri untuk menduduki psosisi jabatan penting.
Memasuki abad ke 4 M, Teluk Wen semakin dangkal. Pendangkalan disebabkan proses alamiah yaitu terjadinya penumpukan sedimen dari tanah pergunungan. Dalam proses yang berlangsung ratusan tahun, akhirnya Teluk Wen menjadi tertutup dan daerahnya berubah menjadi dataran rendah. Kapal-kapal dari negeri luar akhirnya hanya dapat melayari sungai besar yang terdapat ditenah dataran rendah ini, yaitu Sungai Batanghari sekarang.
Sehubungan dengan proses hilangnya Teluk Wen, S. Sartono (1992) mengatakan bahwa akibat dari pendangkalan Teluk Wen diduga telah menyebabkan Negara Koying terpaksa : (1) memindahkan pelabuhan dagang dari Teluk Wen ke darah pantai timur di sekitar daerah Kuala Tungkal sekarang, dan (2) memindahkan pusat pemerintahan dari pergunungan Bukit Barisan di Alam Kerinci ke daerah Muara Tungkal (Kuala Tungkal). Berarti dalam hal ini menunjukkan bahwa pelabuhan dagang Teluk Wen sudah tidak efektif lagi digunakan untuk pelayaran samudra bagi kapal-kapal manca negeara yang ingin berlabuh.
Dugaan pelabuhan samudra Negara Koying dipindahkan ke sekitar pantai Kuala Tungkal dengan mengembangkan pelabuhan yang ada di sana cukup kuat. Pelabuhan itu kemudian difungsikan sebagai pelabuhan samudra yang dapat dilabuhi kapal-kapal besar untuk menggantikan fungsi pelabuhan Teluk Wen. Sedangkan bekas pelabuhan Teluk Wen tetap difungsikan sebagai pelabuhan penghubung bagi kapal-kapal kecil yang melayani bongkar muat barang-barang dagang penduduk negeri di Alam Kerinci dan daerah sekitarnya. Dari sini kemudian baru dibawa ke pelabuhan samudra di pantai Kuala Tungkal.
Apakah dengan pemindahan fungsi pelabuhan Teluk Wen ke pelabuhan di pantai timur tersebut pusat pemrintahan Koying juga ikut pindah ? Sebagian dari ahli sejarah berpendapat bahwa pusat pemerintahan negara Koying tidak dipindahkan dan tetap berada di Alam Kerinci. Perkiraan ini sangat rasional mengingat sangat sulit bagi negara Koying untuk meninggalkan daerah asalnya, karena basis kekuatan pemerintahan berada pada penduduk negeri yang mendiami wilayah Alam Kerinci yaitu komunitas suku bangsa Kerinci. Selain itu wilayah terbesar kekuasaan negara Koying berada di kawasan pusat pergunungan Bukit Barisan yaitu wilayah Kerinci Tinggi, wilayah Kerinci Rendah dan daerah-daerah kecil lainnya di sekitar Kerinci Rendah bagian selatan. Maka dapat dikatakan bahwa pusat pemerintahan Koying tidak pernah dipindahkan dan tetap berada di Alam Kerinci.
Dalam perkembangan selanjutnya, kekuasaan Koying atas wilayah pantai timur di sekitar Kuala Tungkal akhirnya diduga sepenuhnya diserahkan kepada penduduk negeri setempat. Kebijakan ini kelihatannya dilakukan atas pertimbangan karena wilayah tersebut secara ekonomi sudah tidak menguntungkan dipertahankan. Mutiara sebagai komoditas andalan sudah tidak diproduksi lagi dari kawasan Teluk Wen. Pada sisi lain barang-barang komoditi perdagangan dari negeri Koying telah menunjukkan penurunan. Pada akhirnya negara Koying melepaskan daerah pantai timur dan mendorong terbentuknya pemerintahan baru. Pemerintahan baru ini disebut dengan kerajaan Kantorli (Kuntal) dan diperkirakan aban ke 5 M. Antara negara Koying dengan kerajaan Kuntala terjalin persahabatan yang baik, sehingga parapedagang dari pelabuhan dagang kerajaan Kuntala untuk mengekspor berbagai komoditi dagang ke manca negara. Pelabuhan dagang Kuntala semakin ramai karena banyak negeri kecil disekitarnya juga turut menggunakannya. Perkembangan ini telah memberikan keuntungan besar bagi kemakmuran kerajaan Kuntala.
Sesungguhnya Negara Koying telah memusatkan perhatiannya hanya dalam mengurus penduduk negerinya sendiri di wilayah Alam Kerinci, namun perdagangan dengan negeri luar tet dilalukan melalui pelabuhan Kuntala. Barang-barang dagang yang selama ini di ikul para pedangan dari daerah pergunungan Alam Kerinci dan kemudian dikapalkan di pelabuhan Teluk Wen, kini harus diangkut terlebih dahulu dengan menggunakan kapal-kapal kecil menelusuri sungai yang mengalir ke pelahuan Kuntala. Dari pelabuhan Kuntala baru barang-barang dagang tersebut dikapalkan ke mancanegara. Sungguhpun dalam kondisi yang telah berubahan, namun hubungan perdagangan negeri Koying dengan negeri luar tetap terjalin dengan baik, karena para pedagang negeri Koying sejak lama sudah sangat dikenal pedagang mencanegara terutama oleh para pedagang Tamil. Pedagang Tamil menyebut para pedagang dari negeri Koying dengan sebutan ‘orang gunung’ atau dalam bahasa Tamil disebut “Kurinci” yaitu orang-orang yang berasal dari pusat pergunungan Bukit Barisan atau Alam Kerinci.


3. Berakhirnya Kerajaan Koying
Keberadaan Koying yang pernah dikenal di manca negea sampai abad ke 5 M sudah tidak kedengaran lagi. Diperkirakan setelah Koying melepaskan kekuasaanya ata kerajaan Kuntala, kejayaan pemerintahan Koying secara perlahan-lahan menghilang. Koying yang selama ini tersohor sebagai salah satu negara nusantara pemasok komoditi perdagangan manca negara sudah tidak disebut-sebut lagi. Keadaan seperti ini sebenarnya tidak dialami Koying saja, karena kerajaan lain pun yang pernah jaya semasa itu banyak pula yang mengalami nasib yang sama. Kerajaan Javadwipa yang tersohor, akhirnya juga tenggelam secara tidak menentu. Dari berbagai literature dapat dipelajari, bahwa keberadaan suatu pemerintahan atau kerajaan yang telah ratusan tahun lamanya, suatu ketika akan mengalami masa kemunduran dan kemudianbahkan lenyap sama sekali. Penyebabnya bias karena factor dari dalam seperti: perubutan kuasaaan, hilangnya pengaruh terhadap wialyah kerajaan yang sudah sangat luas, terjadinya pemberontakan rakyat karena ingin memisahkan diri, atau sebalinyak disebabkan factor dari luar seperti: ditaklukan kerajaan lain dan lenyap karena terjadinya bencana alam yang dahsyat. Namun demikian, biasanya setelah lenyapnya suatu kerajaan, maka akan muncul pemerintahan baru atau kerajaan baru sebagai penggantinya.
Besar dugaan menghilangnya Koying secara perlahan-lahan dikarenakan sudah tidak mampu lagi mengayomi wilayahnya yang sudah semakin luas akibat berkembangnya pusat-pusat negeri baru yang semakin banyak. Menyebarnya pusat-pusat pemukiman telah melemahkan kendali pemerinthan Koying terutama dalam mengatur dan mengontrol keberadaan negeri-negeri baru yang tersebar dalam wilayah kekuasaanya. Ketidakmampuan ini bisa dikarenakan faktor jarak antara pusat-pusat pertumbuhan negeri baru dengan pusat pemerintahan Koying berada dalam radius yang jauh. Selain itu, antara pusat-pusat pertumbuhan pemukiman baru tersebut hanya bisa dijangkau dengan menempuh jalan pintas melalui hutan belantara. Kondisi alamiah itu telah menyebabkan hubungan pemerintahan menjadi sulit berjalan baik. Kemunikasi antara penyelenggara pemerintahan dan masyarakat pada pusat-pusat pemukiman baru dengan negeri asalnya sebagai pusat pengendalian pemeritnahan menjadi renggang.
Penduduk pada banyak negeri-negeri baru sebenarnya juga berasal dari komunitas yang sama yaitu dari orang-orang yang berasal dari negeri yang telah ada sebelumnya. Jadi penyebaran penduduk dalam wilayah Alam Kerinci antara satu tempat dengan tempat lainnya masih mempunyai hubungan pertalian daerah. Mereka membuat pusat-pusat permukiman baru tidak lain untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan hidup yang lebih layak. Pada negeri baru yang dibuat, mereka lalu membuka sawah, ladang dan mencari kehidupan dari lingkungan alam yang ada. Mereka mengumlkan hasil-hasil hutan seperti damar, rotan, mendulang dan menambang emas serta mencari batu permata, untuk kemudian menjualnya ke para pedagang. Selanjutnya para pedagang kemudian membawa ke pelabuhan-pelabuhan dagang, sehingga menyebar ke berbagai pelosok negeri.
Negeri-negeri baru ini dalam perjalanannya tumbuh dan berkembang menjadi negeri yang makmur dengan penduduk yang kian bertambah. Malahan negeri-negeri yang pernah ada sebelumnya menjadi tertinggal sama sekali. Pertumbuhan banyak negeri baru ini diduga kuat telah menimbulkan pengaruh yang besar terhadap kelangsungan pemerintahan Koying. Keterbatasan sumberdaya untuk memenuhi kebutuhan penduduk dengan wilayah yang semakin tersebar, menjadikan penguasa Koying lemah dalam pengawasan. Kerapuhan dalam menjalankan roda pemerintahan, akhirnya menyebabkan pengaruh dan kekuasaan Koying secara perlahan-lahan pada negeri-negeri baru tersebut menjadi hilang.
Lahirnya negeri-negeri baru di Alam Kerinci pada saat itu, tidak lain merupakan proses gerakan migrasi penduduk yang terpencar dalam berbagai kelompok kecil (talang dan koto), lalu bersatu dalam kelompok yang lebih besar sehingga terbentuklah dusun. Dusun yang terbentuk pada masa itu dapat dikatakan sebagai dusun awal (dusun purba) yang kemudian dalam perjalan sejarah berkembang menjadi banyak dusun. Sudah barang tentu proses pertumbuhan negeri atau dusun-dusun baru ini berjalan secara bertahap dan diperkirakan berlangsung dalam kurun waktu cukup lama. Adapun dusun awal yang menjadi cikal bakal negeri-negeri yang akan berlangsung dalam pemerintahan Segindo sebagai pengganti dari pemerintahan Koying. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar